dalam diam

Rabu, 30 November 2011


Coretan dibawah ini saya tulis dibuku harian saya dengan tulisan tangan, tanggal 20 Oktober 2011, entah apa yang saya rasakan saat itu, saya insomnia amnesia untuk mengingatnya, dan tak perlu diingat lagi memang, mengingat yang lalu kan hanya akan menyesakan dada :P yang saya tahu saat itu saya ingin diam ditengah keramaian, diam bak samudera yang tenang, bak danau yang hening, mari diam dan renungkan catatan saya
Kata orang bijak “Kebenaran itu bukan untuk dipelajari, melainkan ditemukanDi mana mencarinya? iya dimana mencari kebenaran itu” and talking about life, bicara tentang hidup maka jawabnya adalah “Di dalam diam! iya kebenaran hanya bisa ditemukan dalam diam, dan saya menemukannya” Sebab, di dalam diam itu saya bisa berbicara dengan hati. karena semua teori nampak benar, jarang ada teori salah, namun ketika teori menjadi aplikasi, mulai terjadi try and error, maka pertanyaan saya selanjutnya adalah: “
Seberapa sering saya bertanya “apakah ini benar, apakah itu salah?” dan jawabannya selalu saya temukan ketika saya hening dan diam, tak perlu curhat sana sini, tak akan saya temukan disana, karena kebenaran ada dalam hati nurani
Hati merupakan teleskop dari jiwa bukan, sedangkan mata merupakan teleskop dari hati…
:) Manusia sering mempertunjukkan kekerdilan diri karena tidak mau diam. Mulut nyerocos, semakin banyak bicara semakin terkuak aib aib kita yang sudah ALLAH tutupi, kita buka lebar lebar, atau bicara tapi tidak nyambung antara keinginan hati dan paparan mulut. Berbuih-buih sudah mulut berkoar isinya dusta, akhirnya kebohongannya terkuak dan sulit ditambal jika sudah terkuak… aib tersebur dan kemulian saya sebagai manusia terkikis.
 Itu karena saya dan manusia lain kurang merenung, kurang “diam“.  Saya jadi ingat pesan guru mengaji saya jika terus bicara maka hati tak lagi peka mendengar “suara” orang lain karena tersumbat oleh suara sendiri :)  

Karena bila saya tak mampu memahami masalah sendiri dengan dalam, bagaimana bisa memahami orang lain? Maka, yang muncul kemudian adalah menyalahkan, menyikut, mempermalukan, membodohi, dan menipu orang lain. Saya jadi licik, “Oleh karena itu, yang penting bagi saya, kerjakanlah apa-apa yang baik bagi saya dan bukan yang baik menurut mereka, sembari saya serahkan jiwa raga saya pada ALLAH” ini juga ada ditulisan Jatiswara Kawedar “Manusia itu sesungguhnya adalah gurunya sendiri; di dalam dirinya sendiri terdapat rahasia keberadaannya.”
Ketika saya mencela dan menghakimi seseorang: mengapa repot-repot mencela dan menghakimi? Bukankah setiap perbuatan adalah tanggung jawab saya sendiri dan saya tidak harus bertanggung jawab terhadap perbuatan orang lain? Daripada membuang-buang tenaga untuk mencela dan menghakimi, menuding ke sana kemari, mengapa tidak duduk diam dalam hening, mengamati napas dan kesejatian saya, untuk memupuk kebajikan dan kebijaksanaan dalam diri
Lidah adalah salah satu kenikmatan yang besar yang dianugerahkan ALLAH kepada manusia, padanya terdapat kebaikan yang banyak dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang menjaganya dengan baik dan bahaya yang besar bagi siapa yang meremehkannya (membiarkannya) lalu digunakannya pada jalan atau tempat yang tidak semestinya.
Iya, ketajaman lidah mengalahkan ketajaman pedang yang mampu membelah besi dan daya penghancur (rusak)nya sangat kuat mengalahkan cuka dalam merusak madu yang manis,Cara menyelamatkan diri dari bahaya lidah adalah diam, Diam Itu Emas Dalam upaya mendewasakan diri say

0 komentar

Posting Komentar